Saya kira itu kamu,
Terlihat sangat sempurna,
Nyaris tak bercacat,
Pecah yang tersembunyi.
Saya kira itu kamu,
Tak sedetik pun saya percaya,
Berharap,
Semoga memang kamu.
Pada akhirnya,
Saya sadar.
Saat ini,
Bukan kamu.
Seharusnya sederhana saja,
Tak perlu banyak upaya,
Mengalir dengan sendirinya,
Hingga kita menemukan kita.
Selamat tinggal.
Saya menunggu,
Entah itu kamu,
Atau bukan.
Suatu hari nanti,
Pasti datang.
Entah baru,
Atau kembali pulang.
Sunday, December 20, 2015
Friday, December 18, 2015
Tiga Belas
Ha!
Tiga belas
Angka kita
Ingat?
Apa kabar?
Saya rindu.
Satu minggu lalu,
Ulang tahun saya,
Kemana?
Sudah lupa?
Sampai jumpa.
Di lain waktu.
Semoga.
Tiga belas
Angka kita
Ingat?
Apa kabar?
Saya rindu.
Satu minggu lalu,
Ulang tahun saya,
Kemana?
Sudah lupa?
Sampai jumpa.
Di lain waktu.
Semoga.
Sunday, November 22, 2015
Dua Belas
Kau pikir siapa?
Siapa dirimu?
Siapa aku?
Layakkah engkau mengacungkan telunjuk?
Berdiri di atas peran, "Aku berhak untuk ini!"
Oh, Tuan. Aku tidak peduli.
Betapa pun engkau seorang Ksatria,
Ataupun seorang Bangsawan,
Bahkan seorang Kaisar sekali pun,
Redup.
Seperti Raja yang menyelamatkan diri ketika diserang.
Berlindung di balik jubah, takut akan salah.
Busuk seperti bangkai.
Siapa dirimu?
Siapa aku?
Layakkah engkau mengacungkan telunjuk?
Berdiri di atas peran, "Aku berhak untuk ini!"
Oh, Tuan. Aku tidak peduli.
Betapa pun engkau seorang Ksatria,
Ataupun seorang Bangsawan,
Bahkan seorang Kaisar sekali pun,
Redup.
Seperti Raja yang menyelamatkan diri ketika diserang.
Berlindung di balik jubah, takut akan salah.
Busuk seperti bangkai.
Saturday, August 15, 2015
Sebelas
Sebuah cerita antara nyata dan fantasi,
Abu-abu yang menjadi kohesi hitam-putih,
Sudah bukan dubius.
Tak mafhum mengapa,
Bolehkah aku kembali menjadi abu?
Bukan perkara benar-salah,
Hanya saja belum siap.
Melewati batas galaksimu,
Aku tak berdaya.
Lemah, tak terkendali.
Sebuah ledakan spektakuler,
Dan aku hancur menjadi kepingan utuh.
Aku menerimamu,
Maka aku tersusun kembali.
Abu-abu yang menjadi kohesi hitam-putih,
Sudah bukan dubius.
Tak mafhum mengapa,
Bolehkah aku kembali menjadi abu?
Bukan perkara benar-salah,
Hanya saja belum siap.
Melewati batas galaksimu,
Aku tak berdaya.
Lemah, tak terkendali.
Sebuah ledakan spektakuler,
Dan aku hancur menjadi kepingan utuh.
Aku menerimamu,
Maka aku tersusun kembali.
Monday, July 6, 2015
Sepuluh
Mereka bilang jangan mendekat,
Berbahaya.
Aku mendekat,
Senang berada di ambang bahaya.
Sangat rumit, katamu.
Aku tidak yakin.
Sangat sederhana, menurutku.
Tapi kebanyakan manusialah yang rumit.
Kamu, hanya hidup dengan caramu,
Yang berbeda dengan cara hidup orang lain.
Sekali lagi,
Mereka rumit.
Kamu sederhana.
Pemikiranmu terdefinisi rumit,
Karena mereka tidak berpikir sesederhana itu.
Dan kamu,
Akhirnya memilih menjadi seperti kepiting.
Cangkangmu keras,
Yang ada di dalammu, sebenarnya lembut.
Sunday, July 5, 2015
Sembilan
Harapanku tak masuk akal.
Aku harap,
Kita kembali menjadi orang asing,
Yang tidak pernah tahu apa-apa,
Tentang masing-masing dari kita.
Aku harap,
Kita kembali menjadi orang asing,
Ketika semua sederhana,
Hanya mengetahui nama.
Aku harap,
Kita kembali menjadi orang asing,
Berkenalan kembali,
Membangun 'pondasi kita' yang baru.
Aku harap,
Kita kembali menjadi orang asing,
Tanpa melupakan apa yang pernah terjadi,
Untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.
Aku harap,
Kita kembali menjadi orang asing,
Yang tak perlu berucap apa-apa,
Tapi sudah mengerti semuanya.
Bisakah kita,
Menjadi orang asing?
Atau paling tidak,
Memulai semua kembali dari awal?
Aku harap,
Kita kembali menjadi orang asing,
Yang tidak pernah tahu apa-apa,
Tentang masing-masing dari kita.
Aku harap,
Kita kembali menjadi orang asing,
Ketika semua sederhana,
Hanya mengetahui nama.
Aku harap,
Kita kembali menjadi orang asing,
Berkenalan kembali,
Membangun 'pondasi kita' yang baru.
Aku harap,
Kita kembali menjadi orang asing,
Tanpa melupakan apa yang pernah terjadi,
Untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.
Aku harap,
Kita kembali menjadi orang asing,
Yang tak perlu berucap apa-apa,
Tapi sudah mengerti semuanya.
Bisakah kita,
Menjadi orang asing?
Atau paling tidak,
Memulai semua kembali dari awal?
Saturday, July 4, 2015
Delapan
Kepada jiwa yang menyedihkan,
Maafkanlah mereka,
Ampunilah dirimu.
Tidak apa-apa.
Kepada jiwa yang menyedihkan,
Mengapa menjadi angkuh?
Terlalu malu untuk memaafkan?
Oh, telan saja gengsimu!
Kepada jiwa yang menyedihkan,
Kau mungkin butuh secarik cinta.
Mereka memberimu,
Kau menolaknya.
Kepada jiwa yang menyedihkan,
Bernapaslah.
Hidup.
Maafkanlah mereka,
Ampunilah dirimu.
Tidak apa-apa.
Kepada jiwa yang menyedihkan,
Mengapa menjadi angkuh?
Terlalu malu untuk memaafkan?
Oh, telan saja gengsimu!
Kepada jiwa yang menyedihkan,
Kau mungkin butuh secarik cinta.
Mereka memberimu,
Kau menolaknya.
Kepada jiwa yang menyedihkan,
Bernapaslah.
Hidup.
Tujuh
Terima kasih kepastian,
Aku tak perlu lagi menunggu.
Terima kasih kepastian,
Aku tak perlu repot lagi mencari perhatian.
Terima kasih kepastian,
Aku tak perlu lagi menunggu.
Terima kasih kepastian,
Aku tak perlu repot lagi mencari perhatian.
Terima kasih kepastian,
Telah mengeluarkanku dari ambang keraguan.
Terima kasih kepastian,
Akhirnya aku tahu pijakan untuk melangkah.
Terima kasih kepastian,
Akan sangat bodoh jika aku tangiskan.
Terima kasih kepastian,
Aku merasakan kebebasan.
Terima kasih kepastian,
Untuk memberikan pelajaran.
Dan terima kasih kamu,
Untuk memberikan kepastian.
Friday, July 3, 2015
Enam
Kepada tanda tanya,
Mengapa semuanya abu-abu?
Kapan aku harus berhenti?
Kepada tanda tanya,
Aku tak pernah mengerti,
Terima kasih telah menemani.
Kepada tanda tanya,
Bisakah aku bertemu dengan titik?
Mengapa semuanya abu-abu?
Kapan aku harus berhenti?
Kepada tanda tanya,
Aku tak pernah mengerti,
Terima kasih telah menemani.
Kepada tanda tanya,
Bisakah aku bertemu dengan titik?
Wednesday, May 13, 2015
Lima
Imaji itu sangat menyenangkan.
Sampai-sampai lupa berpijak.
Melayang-layang seakan semua nyata.
Indah sekali.
Lalu jatuh dan tersadar,
"Selama ini saya ada di mana?"
"Lalu sekarang bagaimana?"
Bertanya seolah ada jawaban
Dan pada akhirnya,
Menertawakan diri sendirilah yang tersisa.
Haha.
Bodoh.
Sampai-sampai lupa berpijak.
Melayang-layang seakan semua nyata.
Indah sekali.
Lalu jatuh dan tersadar,
"Selama ini saya ada di mana?"
"Lalu sekarang bagaimana?"
Bertanya seolah ada jawaban
Dan pada akhirnya,
Menertawakan diri sendirilah yang tersisa.
Haha.
Bodoh.
Thursday, March 12, 2015
Empat
Kau adalah pahlawanku,
Berjuang untukku.
Letihmu aku rasa,
Kau bilang kau tak apa.
Tumpah air mata,
Kau sembunyi.
Luka hatimu,
Kau tutupi.
Doamu selalu indah,
Bersamaku di setiap waktu,
Memapah jalanku,
Menghapus tangisku.
Pelukmu menghangatkanku,
Mengobati lukaku,
Penghapus lelahku,
Seperti pulang ke pangkuanmu.
Kau bermimpi,
Kita akhirnya bahagia,
Seperti dalam cerita,
Mengalahkan kejinya dunia.
Oh, Ibu..
Tumpukan hutangku,
Takkan pernah mampu kubayar.
Aku di sini,
Berjuang,
Mendoakanmu.
Terima kasih.
Berjuang untukku.
Letihmu aku rasa,
Kau bilang kau tak apa.
Tumpah air mata,
Kau sembunyi.
Luka hatimu,
Kau tutupi.
Doamu selalu indah,
Bersamaku di setiap waktu,
Memapah jalanku,
Menghapus tangisku.
Pelukmu menghangatkanku,
Mengobati lukaku,
Penghapus lelahku,
Seperti pulang ke pangkuanmu.
Kau bermimpi,
Kita akhirnya bahagia,
Seperti dalam cerita,
Mengalahkan kejinya dunia.
Oh, Ibu..
Tumpukan hutangku,
Takkan pernah mampu kubayar.
Aku di sini,
Berjuang,
Mendoakanmu.
Terima kasih.
Wednesday, March 11, 2015
Tiga
Kulihat kebahagiaan di matamu,
Menari-nari indah,
Tak sabar akan petualangan baru,
Kau akan pergi.
Sebisaku memberimu kenangan indah,
Namun terlambat.
Inginku kau tetap tinggal,
Namun sudah terlambat.
Aku bahagia,
Aku berdusta.
Jiwaku rapuh,
Parasku tersenyum.
Untuk apa aku berusaha keras?
Tak punya alasan untuk berjuang.
Oh, Tuhan, mengapa?
Ragaku hidup, batinku mati.
Menari-nari indah,
Tak sabar akan petualangan baru,
Kau akan pergi.
Sebisaku memberimu kenangan indah,
Namun terlambat.
Inginku kau tetap tinggal,
Namun sudah terlambat.
Aku bahagia,
Aku berdusta.
Jiwaku rapuh,
Parasku tersenyum.
Untuk apa aku berusaha keras?
Tak punya alasan untuk berjuang.
Oh, Tuhan, mengapa?
Ragaku hidup, batinku mati.
Dua
Mereka bilang kita mengerikan,
Aku tak heran.
Mereka bilang kita sempurna,
Aku tertawa.
Mereka hanyalah penonton,
Dan kita adalah pemeran.
Oh sayang,
Bagaimanapun penikmat acara,
Tak pernah tahu di balik layar.
Mereka tak tahu,
Bahwa kita sebenarnya lelucon.
Aku tak heran.
Mereka bilang kita sempurna,
Aku tertawa.
Mereka hanyalah penonton,
Dan kita adalah pemeran.
Oh sayang,
Bagaimanapun penikmat acara,
Tak pernah tahu di balik layar.
Mereka tak tahu,
Bahwa kita sebenarnya lelucon.
Satu
Aku adalah bunga matahari,
memberi dunia warna ceria,
Mereka bahagia,
Mereka ada.
Aku adalah bunga matahari,
Ragaku melemah,
Aku membusuk,
Mereka hilang.
memberi dunia warna ceria,
Mereka bahagia,
Mereka ada.
Aku adalah bunga matahari,
Ragaku melemah,
Aku membusuk,
Mereka hilang.
Subscribe to:
Comments (Atom)