Menyakiti untuk mengobati.
Kamu dokter,
Dan aku pasien.
Aku bisa membencimu atas rasa sakit itu,
Yang mau tidak mau harus aku terima,
Demi kesembuhanku sendiri.
Sel kanker itu sudah cukup parah, barangkali.
Hingga dosis obat yang kamu beri cukup keras.
Tujuanmu menyembuhkanku, bukan?
Dan aku, nyaris mati.
Dari jauh, kamu menganalisa,
"Obat ini efeknya bukan main.
Aku tidak punya pilihan lain.
Semoga tubuhnya bisa menerima."
Aku merintih keskitan.
Bertanya,
"Bagaimana jika tubuhku menolak?"
"Bertahanlah. Terima, maka kamu akan sembuh. Semoga."
Sekarang,
Aku bisa mengirup udara bebas.
Aku hidup kembali.
Terima kasih, Dokter.
Tapi, mengapa aku begitu takut hanya untuk cek rutin?
Apakah aku trauma?