Sunday, February 28, 2016

Dua Puluh Satu

Semacam kemoterapi,
Menyakiti untuk mengobati.
Kamu dokter,
Dan aku pasien.

Aku bisa membencimu atas rasa sakit itu,
Yang mau tidak mau harus aku terima,
Demi kesembuhanku sendiri.

Sel kanker itu sudah cukup parah, barangkali.
Hingga dosis obat yang kamu beri cukup keras.
Tujuanmu menyembuhkanku, bukan?
Dan aku, nyaris mati.

Dari jauh, kamu menganalisa,
"Obat ini efeknya bukan main.
Aku tidak punya pilihan lain.
Semoga tubuhnya bisa menerima."

Aku merintih keskitan.
Bertanya,
"Bagaimana jika tubuhku menolak?"
"Bertahanlah. Terima, maka kamu akan sembuh. Semoga."

Sekarang,
Aku bisa mengirup udara bebas.
Aku hidup kembali.
Terima kasih, Dokter.

Tapi, mengapa aku begitu takut hanya untuk cek rutin?
Apakah aku trauma?

Monday, February 22, 2016

Dua Puluh

Aku pun tidak mengerti,
Mengapa aku menjadi seperti itu.
Aku membiarkan segala pembauran,
Tanpa kendali apa-apa.
Ternyata, aku hanyut terlalu jauh.
Aku menjadi sebuah kontradiksi.

Dua tahun silang,
Jiwa itu terlihat terisi,
Tapi sebenarnya kosong.
Dan aku, hanya bisa bertanya-tanya,
"Ada yang salah. Tapi apa?"
Tanpa mengetahui sedikitpun jawaban.

Teruntuk A,
Terima kasih telah membawaku kembali.
Menjadi aku yang dulu lagi.
Mengembalikan apa yang hilang.
Menjadi apa yang seharusnya.
Ini adalah yang aku butuhkan semenjak berbulan-bulan lalu.

Terima kasih,
Karena sekarang aku merasakan kebebasan itu.
Menemukan apa yang salah,
Menikmati detail hidup,
Paham akan batas.

Dan, terima kasih.
Untuk bersedia kembali ke titik awal.

Sunday, February 21, 2016

Sembilan Belas

Aku takjub.
Cara Tuhan menulis skenario ini.
Dan, ini pasti belum berakhir.
Setidaknya, itu yang aku yakini.

Ini bukan cerita yang biasa.
Mereka benar, bahwa semua seperti jaring laba-laba.
Aku melihatnya.
Dan ini bukan tentang satu-dua individu.

Sangat luar biasa,
Kita meledak dalam turbulensi itu,
Loncatan kuantum itu cukup cepat,
Semua mengalir begitu saja.

Ya, kuantum.
Rimba infinit.
Akar dari segala yang relatif.
Kumpulan potensi dan probabilitas.

Barangkali, aku mati rasa.
Sedikitpun aku tidak marah.
Hanya ada rasa syukur.
Gilakah aku?

"Kemana aku harus melangkah sekarang?"
Pertanyaanku yang tersisa.
Atau jangan-jangan,
Kalian menanyakan hal yang sama?

Bifurkasi itu telah mencapai titik kritis.
Dan kita berada di bifurkasi baru.
Aku tidak sendirian di sini.
Kalian juga, kan?

Kita mungkin mengira ini semua adalah akhir kisah,
Firasatku mengatakan, ini adalah awal yang baru.
Siapkah kalian, mendapati ledakan baru nanti?
Siapkah aku?

Friday, February 12, 2016

Delapan Belas

Aku masih di sini,
Dan selalu ada di sini.

Aku melihat semuanya,
Menjadi saksi bisumu,
Penonton atas pertunjukanmu.

Masih bertanya pada Tuhan,
"Apa maksud dari pertemuan kami?"
Tanpa tahu jawaban apa-apa,
Bahkan setelah selama ini.

Kepada Yang Maha Kuasa,
Beritahu aku bahwa penantian ini tidaklah sia-sia.
Sesekali aku ingin menghilang saja,
Mengasingkan kembali antara aku dan dia.

Bukan itu yang Kau mau, kan?
Aku melihat rangkaian benang-benang itu,
Satu per satu terulir,
Entah kapan menjadi kain.

Tuhan..
Dapatkah Engkau,
Memberitahuku, apa yang harus aku lakukan?
Sampai kapan aku harus berdiam?

Tak berdaya melihat dia, yang tertunduk haru.
Aku ingin menolongnya, Tuhan.
Tanpa menginterupsi pertunjukannya.
Bolehkah?

Kamu.
Kamu kuat, aku tahu.
Kamu bisa melewatinya, aku tahu.
Tanganku, mungkin tidak akan berarti.

Satu hal yang tak kamu tahu,
Kepada pelukku,
Adalah rumah untukmu berpulang.
Dan kamu masih saja bertualang.