Monday, May 9, 2016

Dua Puluh Dua

Tidak ada kata yang cukup,
Yang dapat mewakili,
Segala hal dan rasa,
Yang terlalui.

Tak berkemanusiaankah aku,
Jika pada akhirnya,
Aku pergi tanpa pamit?

Tak berperasaankah aku,
Jika aku,
Memerdekakan diri?

Tanda tanya itu,
Semakin besar,
Tumbuh,
Tiada henti.

Tanda tanya itu,
Membuatku ingin berlari,
Dan pergi.

Penyerahkah aku?
Pengecutkah aku?

Thursday, March 31, 2016

[Blog Baru]

Seringkali menulis di sini berasa terbatasi paragraf. Teruntuk kamu, yang sesekali membuka blog ini, maaf karena kamu tidak menemukan tulisan baru di sini. Sebenarnya, saya menulis beberapa tulisan di sini sejak postingan terakhir. Tapi, tulisan-tulisan itu saya simpan di draft. Ragu untuk mempublish. Tidak yakin baik untuk konsumsi publik. Oh iya. Kembali ke topik utama, saya membuat blog baru: dinalista.tumblr.com. Silakan untuk mengunjungi :)

Sunday, February 28, 2016

Dua Puluh Satu

Semacam kemoterapi,
Menyakiti untuk mengobati.
Kamu dokter,
Dan aku pasien.

Aku bisa membencimu atas rasa sakit itu,
Yang mau tidak mau harus aku terima,
Demi kesembuhanku sendiri.

Sel kanker itu sudah cukup parah, barangkali.
Hingga dosis obat yang kamu beri cukup keras.
Tujuanmu menyembuhkanku, bukan?
Dan aku, nyaris mati.

Dari jauh, kamu menganalisa,
"Obat ini efeknya bukan main.
Aku tidak punya pilihan lain.
Semoga tubuhnya bisa menerima."

Aku merintih keskitan.
Bertanya,
"Bagaimana jika tubuhku menolak?"
"Bertahanlah. Terima, maka kamu akan sembuh. Semoga."

Sekarang,
Aku bisa mengirup udara bebas.
Aku hidup kembali.
Terima kasih, Dokter.

Tapi, mengapa aku begitu takut hanya untuk cek rutin?
Apakah aku trauma?

Monday, February 22, 2016

Dua Puluh

Aku pun tidak mengerti,
Mengapa aku menjadi seperti itu.
Aku membiarkan segala pembauran,
Tanpa kendali apa-apa.
Ternyata, aku hanyut terlalu jauh.
Aku menjadi sebuah kontradiksi.

Dua tahun silang,
Jiwa itu terlihat terisi,
Tapi sebenarnya kosong.
Dan aku, hanya bisa bertanya-tanya,
"Ada yang salah. Tapi apa?"
Tanpa mengetahui sedikitpun jawaban.

Teruntuk A,
Terima kasih telah membawaku kembali.
Menjadi aku yang dulu lagi.
Mengembalikan apa yang hilang.
Menjadi apa yang seharusnya.
Ini adalah yang aku butuhkan semenjak berbulan-bulan lalu.

Terima kasih,
Karena sekarang aku merasakan kebebasan itu.
Menemukan apa yang salah,
Menikmati detail hidup,
Paham akan batas.

Dan, terima kasih.
Untuk bersedia kembali ke titik awal.

Sunday, February 21, 2016

Sembilan Belas

Aku takjub.
Cara Tuhan menulis skenario ini.
Dan, ini pasti belum berakhir.
Setidaknya, itu yang aku yakini.

Ini bukan cerita yang biasa.
Mereka benar, bahwa semua seperti jaring laba-laba.
Aku melihatnya.
Dan ini bukan tentang satu-dua individu.

Sangat luar biasa,
Kita meledak dalam turbulensi itu,
Loncatan kuantum itu cukup cepat,
Semua mengalir begitu saja.

Ya, kuantum.
Rimba infinit.
Akar dari segala yang relatif.
Kumpulan potensi dan probabilitas.

Barangkali, aku mati rasa.
Sedikitpun aku tidak marah.
Hanya ada rasa syukur.
Gilakah aku?

"Kemana aku harus melangkah sekarang?"
Pertanyaanku yang tersisa.
Atau jangan-jangan,
Kalian menanyakan hal yang sama?

Bifurkasi itu telah mencapai titik kritis.
Dan kita berada di bifurkasi baru.
Aku tidak sendirian di sini.
Kalian juga, kan?

Kita mungkin mengira ini semua adalah akhir kisah,
Firasatku mengatakan, ini adalah awal yang baru.
Siapkah kalian, mendapati ledakan baru nanti?
Siapkah aku?

Friday, February 12, 2016

Delapan Belas

Aku masih di sini,
Dan selalu ada di sini.

Aku melihat semuanya,
Menjadi saksi bisumu,
Penonton atas pertunjukanmu.

Masih bertanya pada Tuhan,
"Apa maksud dari pertemuan kami?"
Tanpa tahu jawaban apa-apa,
Bahkan setelah selama ini.

Kepada Yang Maha Kuasa,
Beritahu aku bahwa penantian ini tidaklah sia-sia.
Sesekali aku ingin menghilang saja,
Mengasingkan kembali antara aku dan dia.

Bukan itu yang Kau mau, kan?
Aku melihat rangkaian benang-benang itu,
Satu per satu terulir,
Entah kapan menjadi kain.

Tuhan..
Dapatkah Engkau,
Memberitahuku, apa yang harus aku lakukan?
Sampai kapan aku harus berdiam?

Tak berdaya melihat dia, yang tertunduk haru.
Aku ingin menolongnya, Tuhan.
Tanpa menginterupsi pertunjukannya.
Bolehkah?

Kamu.
Kamu kuat, aku tahu.
Kamu bisa melewatinya, aku tahu.
Tanganku, mungkin tidak akan berarti.

Satu hal yang tak kamu tahu,
Kepada pelukku,
Adalah rumah untukmu berpulang.
Dan kamu masih saja bertualang.

Wednesday, January 20, 2016

Tujuh Belas

Bagaimanapun selamat tinggal sudah terucap,
Tetap saja ada yang mengiris,
Menyayat,
Dan pedih.

Lubuk itu tidak bisa berbohong.
Kau tahu?
Setiap kata yang kau ukir,
Memiliki bilah yang menusuk.

Rangkaian yang sangat indah,
Bukan untukku.
Dan aku, hanya bisa memandang,
Bertanya, 'Mengapa? Sampai kapan?'

Tak ada jawaban.
Bertanya pun entah pada siapa.
Sendiri dalam senyapmu,
Aku terjebak.

'Ini tentang waktu.'
Terkadang, waktu sangat keparat,
Menguras ikhlas dan sabar hingga habis.

Saturday, January 9, 2016

Enam Belas

Aku ingin tersesat,
Menyapa tak terduga.
Kepada suatu baru,
Hidup kembali.

Aku ingin melepas semua,
Lari dari mereka.
Aku bosan,
Lelah.

Berhenti mengurusi,
Bisakah?
Merasakan kegembiraan,
Melepas curiga,
Bisakah?

Tolong,
Tolong,
Jaga pikiranmu.
Jernihlah.

Biarkan aku hidup.

Sunday, January 3, 2016

Lima Belas

Terima saja yang aku beri
Jangan tanya apa maksudku
Karena aku hanya memberi
Tanpa harap imbalan

Aku tak ingin apa-apa
Jangan khawatir untuk mengembalikan
Atau takut kehilangan
Di lain waktu

Ambillah
Selama masih bisa
Memang untukmu

Bisakah engkau?
Menerimanya saja?